maiyahkc

Blog ini Insya Allah dapat digunakan sebagai media untuk gudang dokumentasi Padhang mBulan Net milist (padhang-mbulan@yahoogroups.com) juga newsletter Kenduri Cinta (kenduricinta@yahoogroups.com) Terima kasih utk teman2 PmBNet yg telah selama ini posting utk Padhang mBulan Net, juga media2 online yang telah membantu kami untuk mengkoleksi tulisan2 Cak Nun. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

Monday, June 29, 2009

Al-Baqoroh Telah memberi Kita Alarm

Salah satu 'ijaz Al Qur'an ialah bahwa sistematikanya tidak dapat dirumuskan. Kita bisa misalnya, menyusun klasifikasi per-disiplin : ada ayat hukum, ayat ekonomi, ayat moralitas, ayat astronomi atau biologi. Ibarat samudra, kita ambil satu ember airnya untuk kita masukkan ke dalam tabung yang berbeda-beda sesuai dengan approach yang kita gunakan. Besok pagi kita akan menemukan suatu kenyataan bahwa pengisian tabung itu bisa kita tukar dan balik atau kita campurkan sekaligus.
Kita mungkin akan mengatakan bahwa Al Qur'an adalah suatu dimensi petunjuk yang multikompleks, kamil, paripurna namun sesungguhnya lebih dari itu. Al Qur'an itu tiada 'jarak'nya dengan Allah : dan kita menyebut Allahu Akbar. Akbar bukan Kabiir. Bukan saja Maha Besar, melainkan lebih dari Maha Besar. Jika kita mampu membayangkan yang lebih besar lagi dari batas besar yang bisa kita capai, maka Ia lebih besar. Jika Maha Besar itu seolah-olah bisa kita 'fahami' dengan rasa-pengertian kita, maka Ia lebih lagi. Kata Maha itu, meskipun tidak terbayangkan, namun ia memberi kesan statis, tetap, atau berhenti. Tetapi Lebih Besar, memberi kesan dinamis, hidup, bergerak. Suatu keterus-menerusan dan ketiada-terbatasan. Dengan permenungan tertentu kita barangkali mampu menggapai taraf demi taraf kebesaran, tetapi kita akan 'lenyap' di satu level tertentu, sebab kita tidak akan bakal mencapai ruang dan tak akan dipeluangi waktu untuk mengejar yang lebih Besar dan terus Lebih Besar.
Maka demikianlah, karena laa roiba fiihi ( (Al-Baqoroh 2) AlQur'an adalah wahyu Allah, kita tak perlu 'heran' apabila ia senantiasa lebih dari segala yang pernah kita tafsirkan, kita mafhumi, kita simpulkan atau kita duga-duga. Allah menganugerahkan kita pamungkas dari segala kitabullah ini kepada kita, suatu jenis makhluk yang ahsani taqwiim (At-Tien 4), yang dulu diprotes penciptanya oleh para Malaikat karena "akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah (Al-Baqoroh.30). Terhadap hal tersebut sejak semula jetas pernyataan Allah tentang keterbatasan kita. JawabNya atas protes itu : "Sesungguhnya Aku. mengetahui apa yang engkau tidak ketahui" (Al-Baqoroh 30).
Malaikat, yang ghoib, dan wajib kita percayai bahwa ia ghoib, sama sekali tak mengetahui apa yang Allah ketahui. Maka kita, jenis makhluk yang berdaging tulang ini, sekurang-kurangnya tak lebih dari itu.
Maka demikian pula terhadap Al Qur'an : tetap berlaku keterbatasan kita. Dengan demikian sesungguhnya alangkah menggairahkan untuk menjadi seorang mu/min : betapa melimpah rahasia Allah yang bisa kita dambakan dan kita yakini. Ayat-ayatNya yang di suatu hari terasa seperti gamblang, temyata mengandung keghoiban, sedemikian rupa sehingga kita akhimya mengalami bahwa itulah satusatunya ruang untuk berislam, sumeleh, pasrah dalam arti yang seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang multi kompleks, yang gamblang namun tetap ghoib dan menyimpan misteri, yang ghoib namun juga bisa gamblang.
Lihat dan bacalah AlQur'an yang amat luar biasa itu, yang terbagi menjadi bagian-bagian, tetapi antara bagian-bagiannya itu saling merangkum, bagian yang satu merangkum bagian yang lain, bagian yang lain merangkum bagian yang satunya, bagian yang ini mengandung bagian yang itu, demikian pula sebaliknya. Bagian-bagian yang tidak parsial, tidak sektoral. Bagiannya mengandung keseluruhannya, keseluruhannya mengandung bagian-bagiannya. Bagian-bagiannya adalah keseluruhannya, kemenyeluruhannya adalah bagian-bagiannya. Sungguh Allah tidak menggertak-sambal ketika ia menantang kaum Musyrikin, jika mereka ragu akan Al Qur'an (juga mungkin menantang keraguan yang kita Kaum Muslimin alarm sendiri), untuk membuat satu ayat saja yang semisal Al Qur'an.
Lihat dan bacalah Al Qur'an yang tiada suatu gejala kehidupan dan gejala sejarah pun yang tidak disebutnya, diperingatinya, serta dituntutnya untuk selamat. Ia sedemikian menyeluruh. Jadi sesungguhnya apa yang saya tulis ini sekedar, dengan segala keterbatasan, semacam menjilat amat sedikit rasa asin dari samudera.
Surat Al-Baqoroh biasa juga disebut sebagai Fusthaathul-Qur'an, puncak Bacaan Agung, karena secara eksplisit pokok tuntutan syariat : yakni perintah-perintah yang menyangkut rukun Islam, Qishash, furgon yang memilahkan hal-hal yang halal dan haram, aturan-aturan tertentu dalam perhubungan ekonomi, perkawinan dan kekeluargaan, bukan sampai soal anak yatim, perang dan sihir.
Tuntunan tersurat ini menjadi alasan yang membuat 'Sapi Betina' ini menjadi puncak Al Qur'an, dan dalam pandangan kita sering dikatakan bahwa surat-surat lain tak mengandungnya. Apa yang terjadi sesungguhnya ialah bahwa Al-Bagoroh menyodorkan kepada kita paket-paket hukum tertentu, sedangkan dalam surat-surat lain banyak bisa dijumpai filsafat dan hakekatnya. jika kita bersedia melihat tuntunan-tuntunan itu tidak terutama sebagai dogma, melainkan sebagai anugerah Allah yang tetap mengandung rahasia, maka latar filsafat dan hakekat di balik setiap aturan tersebut juga selalu bisa kita temui tidak usah di surat lain. Umpamanya pada ayat 276 Allah menjamin akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dewasa ini watak perekonomian di sekitar kita penuh nilai riba dan kita mungkin saja secara sistemik memiliki keterlibatan di dalamnya. Seringkali kita lantas menyaksikan pemandangan ekonomi yang membikin kita sedikit patah hati terhadap jaminan Allah itu, dan barangkali diam-diam kita tengah menuju kearah berkurangnya keyakinan kita terhadap statemen Allah. Dalam situasi seperti ini kita harus tetap berikhtiar menguak rahasia pemyataan Allah itu. Sebutlah barangkali kita-kita yang belum menyesuaikan diri dengan konsep Allah tentang kesuburan sehubungan dengan Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Kite 'bingung' berada di tengah kehidupan mana "yang tak jujur makmur, yang jujur terkubur". Dalam fase proses 'kebingungan' itu Allah langsung menyodorkan ayat berikutnya (277): bahwa yang (benar-benar) beriman, beramal sholeh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya. Langsung pula Allah melipur hati kita: Tak ada kekhawatiran kepada mereka dan tak pula mereka bersedih hati. Artinya, jika masih juga bingung dan nelangsa, hendaknya ia mempertanyakan kembali imannya, amal-sholehnya,sembahyang dan zakatnya. Yakni kesetiaan dan stamina intensitas amal-amal baiknya itu.
Kita memang seringkali bersikap konsumtif terhadap jaminan-jaminan Allah. Padahal jaminan itu memerlukan kreativitas kita : artinya kita harus mengasah radar rokhani kita dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, baru kemudian berjanji Allah itu pantas untuk kita kenyam.
Sikap konsumtif itu nampakjuga pada kebiasaan banyak Muslim yang karena berbagai konditioning lingkungan ia tidak meletakkan Al Qur'an sebagai buku pokok atau literatur utama di tengah tumpukan buku-buku bantu yang bisa diperoleh di toko-toko buku atau di Universitas dan Sekolah. Ibarat batu permata rokhaninya kurang digosok sehingga tidak cukup mengkilat untuk mampu memantulkan cahaya Allah.
Ayat 1 Al-Baqoroh, adalah suatu isyarat. Alf Laam Miim. Para Ulama menyerahkan artinya kepada Allah, sementara Ulama lainnya mencoba menafsirkannya. Ada yang menyebut itu adalah nama Surat, yang lainnya berpendapat itu semacam atraksi untuk menarik perhatian pembacanya, lainnya lagi menganggap itu suatu petunjuk bahwa bukantidakadamaksud Allah untukmenurunkanAl Qur'an dalam Bahasa Arab, bukan Bahasa Jawa.
Tentu saja allohu a'lamu bishshowaab. Namun yang jelas : ia adalah suatu misteri, suatu rahasia. Tidak jelas rahasia macam apa, tapi jelas bahwa rahasia tersebut adalah rahasia. Mengapa ia suatu isyarat? Karena jika sebuah rahasia terang-terangan dijadikan intro (ayat pertama) dari Surat terpanjang ini, tentulah itu suatu tuntunan implisit bahwa memang demikian banyak rahasia yang sebaiknya kita'survey' di dalam ayat-ayat AlQur'an. Kita tidak paham apa Alif Laam Miim, tetapi kata ayat 2 : Tak ada keragu-raguan padanya, ia adalah petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.
Adakah kita diberi petunjuk melalui rahasia? Ya, kata ayat 3, apabila kita adalah benar-benar orang-orang yang beriman kepada ghoib, yang mendirikan sembahyang serta menafkahkan sebagian rejeki. Dan kita tahu, yang ghoib, yang menurut para ahli Islam adalah segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pancaindera, temyata bukan hanya para Malaikat, hari Akhirat dan lain-lain. Kita bisa membaca dan menuliskan Alif Laam Miim, namun ghoiblah yang dikandungnya. Maka sungguh mengherankan mengapa kita amat rajin menelusuri rahasia Al Qur'an. Maka sesungguhnya justru rahasia Alif Laam Miim itulah yang merangsang gairah, semangat dan tenaga setiap Muslim untuk dengan penuh sukacita dan rasa cinta meneruskan membaca ayat-ayat selanjutnya dan seterusnya, agar ia bisa bergabung dengan rahasianya.
Di bagian atas telah saya sebutkan tentang tidak ada satu gejala kehidupan pun yang tidak terangkum dalam Al Qur'an, kemudian diperingatkannya dan diberinya tuntunan. Artinya ayat-ayat Al Qur'an itu selalu aktual. Meskipun ia dulu memang diturunkan berdasarkan suatu proses kesejarahan tertentu, konteks sosiologis dan asbabun-nuzul tertentu, tetapi bukan Al Qur'anlah namanya apabila sesudah lewat suatu era sejarah tertentu lantas ia pun ikut lewat dan kehilangan aktualitas. Membaca dan menerapkan (dalam rasa dan pikiran) ayat demi ayat Al-Baqoroh umpamanya, kita segera akan bertemu dengan berbagai potret kehidupan masa kini yang sering kita alami, kita libati, dan kita amati.
Ketika di ayat-ayat awal Allah berfirman dan memberikan gambaran tentang golongan mu'minin, nafiqiin, musyrikiin dan kaafiriin : kita begitu karib dengan deskripsi. Rasanya yang digambarkan Allah itu baru berlangsung tadi pagi, tujuh abad sesudah ayat itu diturunkan, dan di suatu tempat dan lingkup yang kita kenal sebagai 'dunia modern'.
Membaca Al-Baqoroh ayat 11, tidaklah tertera di kesadaran kita hipokrisi politik dewasa ini dengan segala anasir dan variabeinya? Itu siapa tahu barang kali juga menyangkut sebagian pemimpin Kaum Muslimin sendiri, atau justru kita sendiri yang sedikit banyak juga memiliki saham di dalam 'dosa bersama' penumbuhan 'kemunafikan struktural' meskipun mungkin kita tidak menyadarinya, seperti yang disebut oleh ayat 12?
Pernah kita memiliki sahabat-sahabat, kenalan-kenalan, gagasan-gagasan yang kita jumpai di mass media, di forum-forum diskusi, seminar, pidato-pidato, puisi-puisi, atau dalam obrolan-obrolan lepas sehari-hari, yang sesungguhnya dideskripsikan Allah melalui Al-Baqoroh ayat 13? Tidakkah getaran kenyataan yang diungkapkan Allah tersebut kita rasakan kemarin, hari ini, di lingkungan yang karib dengan kesibukan kita, bahkan juga justru di dalam diri kita sendiri? Kemudian kita sendiri jugakah, atau handai tolan kita, atau pemikiran-pemikiran lingkungan yang sering kita dengar, kita baca, kita jumpai, yang sesungguhnya dimaksud oleh ayat 18?
Apakah kita takut mati? Artinya mungkin juga takut pada 'kematian kecil'? Takut kelaparan? Takut soal jaminan hari depan, sehingga lebih mempercayakannya kepada 'buah-buah khuldi' yang dilarang Allah, dibanding mempercayakannya kepada kesetiaan terhadap hukum-hukumNya? Apa gerangan konsep kita tentang kematian? Etos mati yang bagaimana yang hidup dan kita imani selama ini? Sesuaikah ia atau bertentangankah ia dengan tuntunan Allah di ayat 94 umpamanya?
Apakah kita merasa kecut karena "tidak mungkin melawan arus"? Apakah kita 'terpaksa' menjadi munafiq kemudian setengah mati berusaha menyembunyikan kemunafikan itu dengan menyodor-nyodorkan alasanalasan apologetik dan artifisial untuk dijadikan topeng yang kita pakai di panggung pementasan yang sarat hipokrisi ini? Apa artinya gerangan resiko miskin, kelaparan, sedikit takut, dikucilkan, 'buntu masa depan'? Apa gerangan makna'kesengajaan cobaan' Allah itu, kemudian isyarat bahagia bagi mereka yang terus setia bersabar, seperti yang diungkapkan oleh ayat 155? Apa pula arti bimbingan Allah agar kita mengucapkan "Sesungguhnya segala sesuatu adalah milikNya dan akan kembali kepadaNya" (ayat 156) apabila kita menerima musibah-musibah apa pun, tidak hanya 'kematian' ? Dan jika selama ini kita memakai tradisi mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uun" setiap kali ada ikhwan kita yang meninggal dunia, marilah kita pertanyakan kembali sesuai dengan konsep Allah kah pengertian kita tentang 'musibah' dan'mati'.
Jangan-jangan apa yang biasanya kita anggap musibah sesunggahnya justru bukan musibah menurut pengertian Allah yang mestinya wajib kita tiru. Jangan-jangan apa yang kita takutkan dari kematian bukanlah sesuatu yang selayaknya kita takutkan berdasarkan konsep Allah. Ayat 216 memperingatkan kita akan hal ini. Mengapa, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak 'mendialektikkan' pengalaman-pengalaman kita dengan rahasia ayat ini. Bahkan di dalam surat lain Allah mengemukakan bahwa 'keburukan maupun 'kebaikan' yang menimpa kita dariNya, kedua-duanya adalah cobaan.
Semua itu adalah petunjuk bagi kita untuk merevaluasi berbagai gagasan dan anggapan, sangkaan kita tentang pengalaman sehari-hari, namun sekaligus bisa juga membimbing kita di dalam menilai kembali konsep-konsep masyarakat kita tentang kemajuan, kemakmuran, perkembangan, pembangunan, dan seterusnya.
Kontekstual dengan itu, adalah metafora Allah tentang 'absurditas' watak manusia ketika Ia menceritakan Bani Israil dan Isa as. dalam hal perintah mencari dan menyembelih sapi. Tergambar di situ betapa manusia memiliki kecenderungan untuk menciptakan kesukaran dan problemnya sendiri. Manusia, masyarakat dan kebudayaannya seringkali gagal memilahkan antara butuh dan mau. Kebutuhan dan kemauan. Kalau diterobos lagi : antara keperluan yang murni dengan nafsu. Baik yang tercermin secara individual maupun yang terkandung dalam gagasan-gagasan suatu sisitim bersama, dalam keputusan politik, kebijakan ekonomi, atau pemilihan pola kebudayaan.
Maka pentingnya mempertanyakan kembali anggapan-anggapan, sangkaan-sangkaan tentang kemajuan, modernitas, sukses dan peningkatan. Kita lihat misalnya menyangkut etos innovasi : gairah terhadap sesuatu yang baru dan terus baru lagi. Suatu denyut hidup di mana seseorang atau suatu masyarakat senantiasa memperbaharui diri, senantiasa 'lahir kembali', senantiasa yughoyyiru maa bianfusihim, untuk mengarah ke 'kiblat', yakni baitullah dalam arti yang kualitatif-essensial. Jadi usaha innovasi itu suatu mekanisme taqorrub. Cuma taqorrub ke mana dan ke apa, itu yang menjadi soal. Selama ini yang kita bisa saksikan dalam dunia ilmu pengetahuan, kesenian, serta berbagai kegiatan adab-budaya masyarakat, kita dipimpin oleh suatu 'penguasa sejarah' untuk mentaqorrub tidak ke Allah. Kita, seperti Bard Israil, cenderung menciptakan problemproblem kita sendiri, mengotak-atik suatu gagasan yang kita sangka itu suatu innovasi padahal semu dan mubadzir.
Sementara itu, tidak seperti Bani Israil, sesudah bertanya tentang sapi apa wamanya apa, hakekatnya bagaimana : kita tidak lantas sungguh-sungguh mencarinya, untuk kita sembelih.
Di Surat Al-Baqoroh sapi betina itu adalah lambang subordinasi manusia terhadap kebendaan. Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Sedangkan kita, kalau tak salah lihat, cenderung semakin memelihara sapi itu, 'sapi-sapi modern', untuk kita sembah, meskipun mulut kita mengaku bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan kita.
Dalam persoalan ini, Al-Baqoroh telah jauh-jauh hari memberi kita alarm.
Demikianlah, tentu dengan rasa was-was, sesungguhnya apa yang telah saya paparkan ini sekadar menjilat rasa asin samudera. Sungguh Maha Kaya Allah, yang ilmuNya hanya bisa saya cicipi amat sedikit namun yang amat sedikit itu pun sudah sangat menguras keringat jiwa dan raga, serta mampu merenggut seluruh energi kebahagiaan kita. Ayat terakhir Al-Baqoroh menuntun kita :
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia memperoleh pahala dari kebajikan yang diperjuangkan serta dari keburukan yang dikerjakannya. Mereka berdoa : Wahai Tuhanku, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Wahai Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami sesuatu yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang ingkar".
Yogya, 17 Maret 1984
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad - Islam Menyongosng Masa Depan"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, December 26, 2007

Tempurung- Tempurung Jahat

Koran SINDO, Jum'at, 21/12/2007


UNTUK tulisan ini saya akan mengutip ayat Tuhan, tapi tidak ada hubungannya dengan identitas saya.Benar-benar tidak penting siapa seseorang, apa jabatan, atau status sosialnya.
Dunia akhirat yang terpenting adalah apa yang dia lakukan untuk orang banyak, dicatat atau tidak, diketahui atau tidak, dipuji atau tidak, mendapat award atau tidak, memperoleh tanda jasa atau tidak. Juga karena Tuhan berfirman tidak khusus kepada umat-Nya dengan identitas tertentu.
Nabi dan rasul pun cuma dilewati untuk disampaikan kepada semua jin dan manusia. Memang dalam pemahaman budaya selalu disebut "nabi mendapat wahyu", tapi maksud sebenarnya adalah Tuhan memberi guidance kepada semua makhluk-Nya melalui nabi, tepatnya melalui Rasul. Sebab Nabi,dengan nubuwwat, tidak memperoleh license untuk membimbing umat manusia sebagaimana Rasul dengan Risalat.
Ayat ini saya pilih tidak untuk berdakwah, bertablig atau untuk "tulisan religi" atau apa pun jenis kotak-kotak penjerat kecerdasan dan kemerdekaan berpikir manusia. Kalimat Tuhan ini saya kutip karena sangat substansial dan relevan untuk didengarkan dan dihayati oleh setiap manusia dari bangsa Indonesia menjelang tiba di gerbang ketentuan akan bangkit atau hancur.
Tahun 2008 akan merupakan saat-saat sangat licin dan berbahaya bagi pikiran, bagi setiap visi dan misi,bagi segala aktivitas intelektual, ideologi,konstitusi,manajemen kepemerintahan, wacanawacana aktivisme di semua wilayah kegiatan bangsa Indonesia. Kalau pelaku-pelaku terpenting dari jalannya manajemen negara ini lolos tidak terpeleset,atau terjerembab, atau terjerumus ke jurang dari jalanan licin itu, kita punya kemungkinan untuk selamat.
Kalau apa yang selama ini berlangsung tidak bergerak menuju perubahan-perubahan yang signifikan, maka kecemasan adalah tindakan mulia. Mungkin sangat sedikit di antara kita yang memerhatikan bahwa puncak-puncak dari makin banyak dunia aktivitas- apa itu kesenian, ormas, budaya ketokohan, institusi kepemerintahan, dsb-sedang satu persatu "dipelorotin celananya" oleh sejarah, lebih amannya: oleh Tuhan.
"Dipelorotin celananya" itu maksudnya ditunjukkan kepada publik wajah mereka yang sebenarnya. "Aurat"mereka yang selama ini ditutupi dengan hedonisme informasi, dengan feodalisme budaya, dengan disinformasi intelektual, dengan kegelapan spiritual: dikuakkan, dibuka, dibelejeti, satu demi satu.
Ada yang semua orang melihatnya dengan transparan, ada yang perlu satu dua lapis ilmu untuk mengetahuinya, ada yang memerlukan kecerdasan khusus untuk memahaminya.Alam,nature, Tuhan, hukum sejarah, sedang mendaftari satu demi satu jagoanjagoan sejarah untuk kena batunya.
Ada yang dipelorotin celananya melalui narkoba, ada yang terjerat kasus-kasus, ada yang melorot ke jurang pelan-pelan diseret oleh perilaku dan pernyataan-pernyataannya sendiri,ada yang melalui pengelupasan pelan-pelan bahwa orang-orang yang selama ini didewakan oleh masyarakat itu sebenarnya sekadar seorang katak dalam tempurung.
Dalam hal yang terakhir ini yang kita kutuk adalah tempurungnya, yakni faktor-faktor di lingkungan primernya yang membuat tokoh yang baik, yang dijunjung orang, yang dihormati seluruh bangsa atau umat: pada suatu saat tampak di depan umum bahwa dia katak dalam tempurung. Katak dalam tempurung tentu saja bermakna dia tidak benar-benar mengerti persoalan-persoalan masyarakat.
Selama berpuluh tahun atau atas sesuatu hal,tokoh kita itu tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh informasi yang memadai dan kredibel secara ilmiah, tidak membawa kepadanya "bau persoalan" itu agar nuraninya menghayati. Maka produknya adalah persepsi yang bukan hanya salah atas suatu persoalan, tetapi bahkan terbalik, dan kemudian melahirkan penyikapan dan pernyataan yang memalukan dan mempermalukan dirinya, lambat atau cepat.
Nanti akan berkembang ke konteks moral kemanusiaan maupun akhlak keagamaan. Orang yang baik dan tokoh yang hebat bisa tiba-tiba menyandang dosa besar karena dia tidak mempersepsi sesuatu melalui metodologi tabayyun yang maksimal.Tabayyun itu konfirmasi dan rekonfirmasi, check and recheck, mendata lengkap, melakukan mapping secara objektif, menyelenggarakan analisis secara adil, kemudian mengambil kesimpulan dan keputusan yang arif dan indah.
Kalau katak dalam tempurung itu hanya menyangkut orang terpeleset di pasar, orang kecebur sumur, atau bentrok RT ini melawan RT itu, mungkin tidak terlalu besar dampaknya.Tetapi kalau katak dalam tempurung itu menyangkut masalah-masalah nasional, persoalan dasar kerakyatan yang menyangkut ribuan atau jutaan orang, celakalah semua orang.
Terpaksa saya tidak akan menyebut identitas apa pun,personal atau institusional, justru karena tingkat licinnya jalan bangsa kita menuju gerbang itu memaksa kita menggunakan kearifan berlapis-lapis.
Kita harus menjadi orangtua sepuh berumur 330 tahun karena yang kita hadapi adalah taman kanakkanak yang jumlah siswanya 240 juta orang.Tuhan berfirman dengan pola komunikasi diskusi: "Yang kalian benci dan singkirkan itu mungkin justru yang baik dan kalian perlukan. Sementara yang kalian junjung- junjung tiap hari itu mungkin yang berbahaya bagi kalian."
Sepertinya Tuhan harus lebih berterus terang di hari-hari depan bangsa Indonesia ini, dan sama sekali tidak bisa mengandalkan kecerdasan atau iktikad baik kita untuk melakukan rekapitulasi terhadap apa dan siapa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa siapa yang sesungguhnya menghancurkan kita. (*)
EMHA AINUN NADJIB

Tuesday, December 18, 2007

Buang Angin dan Ludah 2009

Koran SINDO, Jum'at, 14/12/2007

SOBIRIN terperosok masuk sumur.Lebih akurat rasa bahasanya dalam Jawa: kejeguratau kejebur sumur. Bahasa Indonesia mengadaptasinya menjadi "tercebur", tapi secara tata bahasa itu dipaksakan.

Alhasil, Pak Sobirin harus ditolong, para tetangga beramai- ramai mengupayakan berbagai cara untuk mengentaskan beliau dari dasar sumur yang sangat dalam itu. Ributlah seluruh kampung siang itu. Tetapi itu tak cukup.Ada keributan yang lain.Di beberapa rumah berlangsung juga keriuhan banyak orang karena rumah-rumah itu adalah posko tim sukses beberapa calon lurah.Keributan di sumur Sobirin bahkan sebenarnya dikalahkan oleh riuh rendah posko-posko.

Bahkan ketika orang-orang di sekitar sumur ribut panik dan teriak satu sama lain untuk menolong Sobirin, lewatlah rombongan kampanye calon lurah. Sungguh dinamis dan hangat suasana demokrasi di kampung itu.Yang segerombolan sibuk mengerjakan tugas kemanusiaan menolong orang tercebur sumur, sejumlah rombongan lain sibuk membangun desa,meneriakkan yelyel, memasang dan membawa gambar-gambar besar wajah-wajah calon lurah. Benar-benar terjadi apa yang Muhammadiyah sering pakai dari Alquran, fastabiqul khoirot: berlombalomba menjalankan kebaikan.

Yang satu mengerjakan pertolongan, lainnya mengerjakan pembangunan: visi, misi, konsep pembangunan desa, perspektif ke depan, dengan slogan-slogan yang penuh optimisme. ***** Berlangsunglah apa yang Tuhan sudah firmankan, "Innallaha ma- 'ashshabirin (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar)." Siang itu penduduk menafsirkan bahwa ayat itu berlangsung lebih akurat. Bukan hanya shabirin, orang-orang sabar yang disayang Tuhan, tapi benar-benar Tuhan menyelamatkan Sobirin dari kematian di dasar sumur yang dalam.

Nyata di depan mata, betapa Tuhan ada bersama Sobirin. Adapun para calon lurah beserta tim sukses dan komunitas pendukungnya tidak perlu ikut melakukan pekerjaan kecil dan lokal menyelamatkan Sobirin. Sebab mereka bertugas di wilayah yang lebih tinggi, lebih luas, dan lebih jauh ke depan.

Mereka agent of change.Mereka pemegang tongkat zaman. Mereka penentu masa depan seluruh kampung. Itu division of labour yang rasional: satu kelompok melaksanakan pekerjaanpekerjaan lokal kecil dan remeh seperti menolong Sobirin, kelompok lain melaksanakan pekerjaanpekerjaan regional, nasional, internasional, global. ***** Saya ketemu Sobirin-Sobirin dan Sidoardjo, Surabaya, Cilegon, dan lain-lain, serta dipangguli mandat amanat untuk men-support proses mengentaskan kaum Sobirin dari dasar sumur penderitaan, kesengsaraan, kebuntuan dan terus terang saja: keputusasaan.

Di Jawa Timur saya berbagi tugas dengan Karwo,Naryo,Ahmadi, Haris Sudarno,mungkin Saifullah Yusuf. Mereka memegang kendali konteks-konteks makro dan rancangan pembangunan regional lima tahun ke depan. Saya bagian mengupayakan dadung (tali tampar) untuk memungkinkan Ashabus- Shobirin keluar dari sumur. Gambar sangat besar wajahwajah mereka dipasang di ribuan perempatan jalan dan tempattempat strategis untuk menyebarkan kesadaran kepada seluruh masyarakat, betapa pentingnya berpikir ke depan, untuk jangka panjang. Betapa pentingnya kebersamaan, persatuan, dan kesatuan untuk membangun provinsi.

Betapa urgennya keteladanan kepemimpinan, dan mereka tampil sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik. Slogan-slogan yang menyertai gambar wajah-wajah mereka mencerminkan tinggi dan cerdasnya visi misi mereka ke depan demi kepentingan seluruh rakyat. ***** Para petugas di lapisan rakyat kecil, termasuk kasus Sobirin tercebur sumur, mohon maaf kepada seluruh kalangan bahwa tatkala sibuk menolongnya, semua orang yang terlibat tak ada yang ingat untuk membawa tustel, sehingga tak ada dokumentasi foto wajah Sobirin ketika ketakutan dan kesakitan di dasar sumur.

Oleh kealpaan itu, tidak bisalah didirikan baliho atau spanduk-spanduk dengan wajah Sobirin. Juga andaipun ada fotonya, mereka para penolong Sobirin tak punya biaya untuk membayar digital print-out gede-gede wajah Sobirin. Energi rakyat kecil terbatas dan kecerdasannya rendah. Setengah mati mereka menolong Sobirin, setelah itu kepala terasa kosong, tak mampu memikirkan apaapa lagi. Sobirin bisa diselamatkan dari dasar sumur saja sudah merupakan rezeki tak terkirakan.

Perkara pilkades, pilkada, pilpres tahun 2009 nanti-itu membutuhkan pelaku-pelaku dengan tingkat kecerdasan intelektual tinggi,bahkan kecerdasan spiritual, juga mentalitas yang tangguh. Pak lurah lama maupun yang calon rata-rata mentalnya sangat tangguh. Keributan orang menolong Sobirin tidak membuatnya goyah, sehingga dia dengan konstituennya terus kampanye tanpa terpengaruh kejadian di sumur. Bahkan Pak Lurah,ketika anaknya masih opname di rumah sakit, dia tetap dengan mental baja melakukan acara lamaran kepada calon istri kedua.

Di seluruh negara ini makin banyak manusia-manusia bermental tangguh yang berpikir dan berlaku efektif ke suatu tujuan. Apa saja landasan berpikirnya adalah 2009,pilkades,pilkada,pilpres. Mereka meludah dengan pertimbangan 2009. Buang angin dengan orientasi pencitraan 2009. Melihat dan menangani masalah apa pun selalu "istiqamah" untuk orientasi 2009. (*)
EMHA AINUN NADJIB

Monday, December 17, 2007

Bakri Lebih Kaya dari Nabi Sulaiman

Surya, Sabtu, 15 Desember 2007


Lupa tahun berapa. Pak Harto masih berkuasa. ABRI dan Golkar sedang kuat-kuatnya.
Menteri Agama waktu itu Pak Tarmidzi Taher, Pangdam Jatim Pak Hartono Banyuanyar
Madura, Gubernur Jatim mungkin Pak Basofi Sudirman. Seingat saya ketiga beliau hadir
di BPPM Pondok Gontor Ponorogo siang itu bersama Bambang Tri Hatmojo boss Bimantara. RCTI meliput acara itu untuk siaran tunda, dipimpin langsung oleh direkturnya: Andy
Ralli Siregar. Waktu itu RCTI masih sempit wawasan dan pengalaman pasarnya,
sehingga menyangka saya dan KiaiKanjeng layak tayang. Kesempitan wawasan itu segera
dibayar dengan pernyataan pengunduran diri sang Direktur hanya beberapa puluh menit
sesudah saya dan KiaiKanjeng naik panggung.

Pasalnya, beberapa menit saya di panggung, saya dikasih kertas kecil berisi
peringatan agar saya hati-hati bicara terutama karena ada anaknya Pak Harto. Maka
saya benar-benar sangat berlaku hati-hati. Saya mengangkat tangan kiri dengan
hati-hati, telunjuk saya luruskan dengan hati-hati dan saya tudingkan ke arah
Bambang Tri Hatmojo.

Tangan saya adalah anugerah Allah yang sangat mahal, sehingga saya gunakan pula
untuk menuding orang yang paling mahal dan penting. "Bambang Tri!", kata saya
dengan hati-hati, "Nanti pulang ke rumah bukalah buku catatan kekayaanmu. Coba
dihitung dengan seksama berapa persen yang halal, berapa persen yang haram dan
berapa persen yang syubhat...."

Karena atmosfir suasana dan wajah semua orang yang hadir terutama para pejabat
tinggi menjadi sangat tegang dan kebingungan, saya meneruskan : "Saya tahu kata2
dan sikap saya sangat menusuk dan menyakitkan hati Bung Bambang, tetapi mohon
diingat bahwa itu hanya secipratan dibandingnya sakitnya hati rakyat selama ini..."
Setelah itu bisa dibayangkan sendiri apa yang terjadi, bagaimana nasib saya,
bagaimana nasib Kiai Gontor yang sesepuh saya di hadapan Pak Harto, bagimana nasib
Direktur RCTI di depan pemilik Bimantara Bambang Tri Hatmojo dst.

Apalagi ketika
kemudian mendadak MC berdiri dan memotong pembicaraan saya dengan mengatakan
"Saudara-saudara demikianlah tadi telah berlangsung seluruh rangkaian acara...."
Spontan dengan hati-hati saya menggebrak meja dan saya bentak MC itu dan saya suruh
turun panggung....

Kalau Anda hadir di Bangbang Wetan insyaallah ada kemungkinan saya kisahkan secara
lebih detail apa yang kemudian terjadi. Suharto masih sangat berkuasa, tentara dan
polisi ada di mana-mana karena Pangdam hadir Menteri hadir dan terutama anaknya Pak
Harto hadir.

Jangan dibandingkan dengan situasi sekarang. Ketika Orba semua orang "ndelosor"
ketakutan. Beda dengan di masa reformasi, sekarang ini: semua orang pemberani,
hebat-hebat, kritis, progresif dan berani melawan siapa saja. Di masa reformasi
semua orang bangkit, semua orang bisa jadi Menteri, semua orang bisa jadi Gubernur,
anggota DPR, Bupati, Walikota...

Kecuali saya. Saya sangat penakut begitu era reformasi berlangsung. Sehingga kalau
umpamanya saya terlibat dalam suatu forum di mana ada Aburizal Bakri, saya jamin
saya tidak akan berani mengucapkan kalimat seperti yang saya ucapkan di depan umum
kepada Bambang Tri Hatmojo : "Bung Ical, nanti pulang ke rumah bukalah buku catatan
kekayaanmu. Coba dihitung dengan seksama berapa persen yang halal, berapa persen
yang haram dan berapa persen yang syubhat...."

Mungkin karena beliau saya bayangkan lebih kaya dibanding Nabi Sulaiman, meskipun
hal itu harus diinvestigasi. Mungkin juga karena dalam pemetaan struktural global
seperti sekarang belum ada pasal-pasal fiqih yang bisa dipakai sebagai parameter
untuk mengukur apakah uang yang itu halal atau haram. Kausalitas, sebab akibat,
asal muasal, ujung pangkal dan sangkan paran setiap lembar uang di tangan seseorang
sangat susah ditentukan posisi fiqhiyahnya, halal haramnya.

Yang saya mampu lakukan adalah tiga hari yang lalu khushusan dari Jakarta saya
datang ke Sidoardjo untuk berkumpul dengan sekitar 120 perwakilan dan tokoh-tokoh
masyarakat korban lumpur yang berjumlah sekitar 11.600 KK atau sekitar 47.000
orang, di luar 290 KK yang masih tinggal di Pasar Porong. Sebelum itu saya temui
dulu Bupati Sidoardjo untuk memastikan di mana "alamat" beliau dalam peta lumpur
hari ini dan ke depan.

Alhamdulillah Sidoardjo solid. Nanti Pebruari Sidoardjo Bangkit. Kami menyepakati
sejumlah prinsip secara penuh tekad bulat, menyusun sekian agenda bertahap ke
depan. Monggo saja.****

oleh : Emha Ainun Nadjib

Thursday, December 13, 2007

Tidak. Jibril Tidak Pensiun

Hanya kualitas sorang Nabi yang sanggup me­nampung wahyu, dan Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas. Selebihnya hanya ada wahyu kraton: suatu tema drama politik.

Maka anak-anak suka bersenda gurau bahwa Jibril sejak abad VII Masehi itu jadi penganggur. Pensiun abadi. Ada yang mebantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan 'radar suci' setingkat mereka tetap menerima karomah, sementara orang-orang biasa kayak kita tetap juga memperoleh ilham.

Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos atau agen penyalur. Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) untuk ke­pentingan apa pun saja.

Alangkah samar pembicaraan semacam ini. Tak ada kerangka metodologi penelitian model manapun yang bisa menyentuhnya. Tak tersedia kredibilitas keilmuan manusia apapun yang mungkin menerobosnya. Apalagi ilmu-ilmu sosial hanya pernah kenal Tuhan sebagai benda abstrak, sebagai suatu syahdan, sebagai kemungkinan obyek yang sungguh asing sifatnya -- sebab segala teori menjadi lawakan tatkala mendekati-Nya.

Satu-satunya jalan disediakan justru oleh berita wahyu itu sendiri. Tetapi ini makin tidak memuaskan manusia modern, yang canggih untuk bercuriga terhadap dogma, yang seolah-olah sengaja membuang kemampuan-kemampuan kejiwaannya yang tertentu yang bisa ia pakai untuk bergaul baik-baik dengan hidayah, dengan petunjuk 'entah dari mana', dengan gudang rahasia keilahian, dengan ketidak-mungkin-tahu-annya sendiri. Ya, manusia modern itu -- yang sombong melebihi Musa menjelang Tursina, yang menyangka bahwa kebenaran dan kepastian adalah miliknya yang ia bisa rancang dan tentukan.

Pada saat yang sama, keterbukaan terhadap gerak penghayatan atas wahyu itu amat diperlukan, setidaknya karena manusia telah sampai pada dua gejala yang sama-sama takabbur.

Yang pertama, manusia telah merasa mampu me­nemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman Nobel, doktor akademik atau sarjana kehidupan. Yang kedua berada si ekstrim lain: yang ada hanya Allah, aku ini tak ada. Yang mutlak itu Allah, aku sekedar rekaan. Karya-karyaku, kata-kataku, musikku, lukisanku, tak bisa kusebut dengan ku, sebab mereka adalah kasih karya Allah semata.

Jadi, kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, kita nonton lukisan Allah.

Maka ia mengemukakan kepadaku iman dan konsep mengenai pinjaman ilmu dan harta benda Allah kepada manusia -- sebagai mana ia mengemukakan hal yang sama ketika kutanyakan kepadanya apa omongan Islam tentang falsafah hak milik dan distribusi ekonomi yang dewasa ini amat dicemaskan oleh kaum sosialis-marxis.

Itu moralitas Allah.

Seandainya saja kita berhasil memiliki suatu pola pendidikan yang memungkinkan terwujudnya iman dan konsep itu dalam diri manusia, maka usaha proyeksi dan sis­temasinya ke dalam organisasi-organisasi kebersamaan manusia tinggal 'sekunder'. Tetapi sejarah telah harus mengandaikan manusia seperti 'maling' yang -- tentu saja tak bisa dipercaya, sehingga harus diciptakan pagar-pagar yang berlebihan. Sistem yang mengatur manusia bersifat substansial, dan manusia berada secara instrumental. Kita adalah gerombolan ayam, memperoleh taburan jagung dari tangan manusia, jago-jago memonopoli taburan itu karena mereka memang 'tak tahu menahu' tentang moralitas tangan manusia yang menaburkan jagung. Perlawanan ayam-ayam lain terhadap jago-jago selalu berupa menyingkirkan atau menumpas jago-jago, atau meng­gantikan kedudukan jago-jago.

Demikian 'psikologi perlawanan' yang sejauh ini berlangsung: apirasi terhadap apirasi, ideologi politik terhadap ideologi politik, kelas terhadap kelas, bahkan kaum wanita terhadap kaum lelaki. Sumber kecenderungan ini ialah karena jagung itu dipandang secara a-historis. Tak dipersoal­kan secara tuntas dari mana jagung tertabur, dan apa moralitas esensial yang terkandung di balik taburan jagung itu. Dengan kata lain, orang makin tak kenal kepada jiwa wahyu.

Maka ia mengemukakan kepadaku Jibril tidak pensiun. Wahyu Allah bukan sebuah dongengan purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan -- dan tubuh beliau adalah bagian yang paling remeh dari eksistensi kepribadiaannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna tapi belum selesai, karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran ummatnya.

Bahwa pada Muhammad disebut wahyu itu berakhir, artinya ialah jatah ilmu pengetahuan dasar anugerah Allah bagi manusia berpuncak di wadah Muhammad. Segala yang kita sebut prestasi akal, ilmu dan teknologi dahsyat yang dicapai manusia sesudahnya, telah terdapat benih-benihnya dalam al-Quran --meskipun selama ini kita menyebut-nyebut hal itu sekedar untuk hibur-hiburan pasif agar meperoleh ke­percayaan diri sebagai ummat. Allah tidak mengkursus kita bagaimana bikin rantai dan pedal, tetapi kualitas fenomena ken­daraan sepeda telah di­tunjukkan-Nya. Apapun yang kelak digapai oleh ke­cerdasan manusia, tak akan melebihi kapasiatas ke­mungkinan yang telah dinurkan oleh wahyu yang berpuncak di Muhammad.

Tetapi, barangkali kita, adalah ummat tolol yang bisa menjadi cukup tenang hanya dengan mengemukakan keyakinan itu, tanpa mengerjakannya, dan kemudian -- kata para piawai -- "Kita ketinggalan dua abad" di­banding orang-orang lain yang justru 'acuh tak acuh terhadap Allah'. Mungkin bagi kita Jibril adalah tokoh sejarah pada zaman sebelum Prabu Jayabaya atau candi Boro­budur dibangun. Jibril adalah bayangan patung, arca berjubah, makhluk supra-raksasa yang telapak tangannya seluas 3333 kali galaksi, yang eksistensinya sepurba Dinosaurus. Atau Jibril itu semacam le­lembut. Dan semua itu tidak konkret.

Padahal tidak. Jibril tidak pensiun. Ia begitu karib, di sisi tidur dan jagamu. Namun apabila pengalaman keilahian tidak selalu kita perbaharui, pada suatu hari kita akan sadar seolah-olah kita ini hidup di masa pra-Ibrahim yang menghayati bulan dan matahari untuk menemukan Allahnya.

Emha Ainun Nadjib (PmBNetDok)

Wednesday, December 12, 2007

Mungkin kita bisa menapak ke depan

Mungkin kita bisa menapak ke depan
Menguak kabut itu bersamamu, menata kembali ruang
Sambil terus berunding dengan waktu.
Dan badai. Tentu, badai itu pasti menyongsong
Tapi coba kita lunakkan, kita lembutkan
Dengan sabar dan shalat
Kemudian atas kerjasama yang baik dengan Tuhan
Kita mohonkan agar tantangan itu diperkenankan
Menjelma jadi rahmat dan kegembiraan

Jaman yang berganti-ganti dan tak masuk akal
Perjuangan berputar-putar, tak jelas maju mundurnya
Topeng-topeng berubah-ubah, tak tahu mana ujungnya
Memberiku kewajiban kemakhlukan, kewajiban persaudaraan
Kewajiban sesamawarga suatu negeri
Sesama anggota suatu masyarakat. Terlebih-lebih
karena kewajiban cinta uluhiyah dan kemesraan kemanusiaan
Membuatku terpojok dan berpikir untuk menapak ke depan
Bersamamu. Tapi mungkin juga tidak
Segala sesuatunya bergantung pada ketetapan hatimu

Aku akan membisikkan sesuatu ke telingamu
Akau akan langkahkan kaki dan gerakkan tanganku bersamamu
Bisikan pertama sebelum bersama kita tempuh perjalanan
Atau mungkin ini bisikan terakhir, sesudah berpuluh tahun
Kutiup gendang batinmu dengan beribu bisikan
Beribu teriakan, bahkan beribu pekikan, yang kau sia-siakan
Sesudah kubung-buang diriku sendiri ke semak-semak kesunyian
Untuk menghasilkan kebebalan yang terus-menerus
Pergumulan asyik yang tak sudah-sudah dengan kebodohan
Menyerah kepada keputus-asaan bersama yang ditutup-tutupi

Aku akan membisikkan sesuatu ke lubuk kesadaranmu
Karena waktu bagimu dalam hidupku sudah hampir habis
Aku sudah tua dan tidak mungkin meneruskan langkah
Yang tanpa pengharapan apa-apa bagi kemajuan hidupmu
Aklu sudah senja dan tidak lagi akan kutaburkan benih-benih
Yang tak kau sirami,tak kau pelihara, bahkan kau injak-injak sendiri
Aku sudah udzur dan tidak sanggup lagi setiap kali menjumpaimu
Terpuruk lagi dan terpuruk kembali di lembah kesengsaraan
Yang disebabkan oleh kemalasan berpikir
dan ketidaksungguh-sungguhanmu sendiri dalam bersikap

Mocopat Syafa'at, 17 Agustus 2001 (PmBNetDok)

Tuesday, December 11, 2007

Buron dan Kambing Terjepit

SINDO, Jum'at, 07/12/2007

"CAK,aku bukan buron.Semua kewajiban saya kepada keuangan negara sudah saya bayar. Bersama ini saya kirimkan berkas-berkas data yang membuktikan hal itu.

Saya numpang hidup sementara di luar negeri memang karena saya lari, tetapi bukan lari sebagai buron, meskipun pengetahuan publik terhadap saya adalah buron." "Saya lari dari para pemeras, dari mereka yang berlagak menegakkan hukum, tetapi sesungguhnya mengail di air keruh.

Memeras kami sekeluarga terusmenerus, dari hari ke hari, siang dan malam. Aku lemah, sekarang istri saya yang menghadapi pemerasan-pemerasan itu tiap hari." "Kalau Pak Presiden menjamin bahwa saya, keluarga, dan perusahaan-perusahaan saya aman dan terlindung dari tindak pemerasan para pagar pemakan tanaman, sekarang juga saya balik ke kampung halaman.Karena meskipun potongan dan wajah saya tidak memenuhi syarat citra nasionalisme,tetapi saya cinta Indonesia.."

"Cak,Pasar Turi terbakar sebanyak 4 kali: 1. Tahun 1969, 2. Tahun 1978, 3. Tanggal 26 Juli 2007,4.Tanggal 9 September 2007.Yang ke-3 dan ke-4, oleh Kapolda Jatim, dinyatakan dibakar. Namun, kami para pedagang tidak atau belum mendengar ada proses hukum yang menuju ke peradilan atas pihak yang membakar.

Cak,bagaimana logika konstitusionalnya kalau kepala polisi bilang itu dibakar, tapi kemudian tak ada proses hukum.Apakah polisi bisa disebut telah menyebarkan kebohongan kepada publik? Ataukah pihak pembakar adalah kakap raksasa ekonomi dan politik sehingga lembaga keamanan negara tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya? Bagaimana kami orang kecil memasukkan hal seperti itu ke dalam nalar kepala kami? Apa lama-lama tidak pecah kepala ini?"

"Pada peristiwa dibakar terakhir, kerugian yang bisa dicatat : 1. Dari total 2.350 stan yang terbakar, kerugian barang dagangan diperkirakan sekitar Rp1,7 triliun. 2. Dari total stan yang tidak terbakar, di lokasi tahap II tidak dapat berjualan kembali hingga saat ini. 3. Dalam kondisi normal, omzet perputaran transaksi perdagangan di Pasar Turi mencapai sekitar Rp30 miliar per hari. Sementara dalam kondisi pemulihan yang sangat lamban seperti saat ini dan telah berlangsung selama tiga bulan, dapat dibayangkan berapa rupiah yang hilang." *****

"Cak,kami para pedagang tidak menuntut yang aneh-aneh. Cak Nun mengatakan di Forum Bangbang Wetan Surabaya bahwa sahibul bait atau tuan rumahnya sawah adalah petani, tuan rumahnya laut adalah nelayan, tuan rumahnya pasar adalah para pedagang. Kami hanya berpendapat bahwa sebagai penghuni dan tuan rumah utama di Pasar Turi, kami berhak disertakan sebagai salah satu subjek dalam proses pengambilan keputusan atas pembangunan pasar kembali oleh Pemkot Surabaya."

"Tetapi sampai hari ini, Wali Kota Surabaya Bambang DH tidak mau sekadar bertemu atau bertatap muka pun dengan kami para pedagang. Jangankan melibatkan kami dalam perundingan. Saya mendengar Cak Nun mencoba menempuh berbagai hal ke Depdagri sampai Mendagri, agar hak-hak pedagang itu memperoleh perhatian, tetapi tidak ada tanggapan apa pun.

Bahkan, pejabat Depdagri minta kami para pedagang membuat surat lamaran agar beliaubeliau hadir ke Pasar Turi.Cak Nun mengatakan kalau ada kambing terjepit di antara dua batu besar, mestinya pamong desa punya mekanisme untuk tahu ada kambing terjepit, kemudian bersegera melakukan sesuatu untuk menolong kambing itu. Tetapi di Indonesia kambing terjepit harus menulis surat lamaran agar pamong desa datang kepadanya." *****

"Cak, saya mendengar katanya Wali Kota Surabaya pernah dipanggil Presiden di Juanda, dipertemukan dengan wakil pedagang Pasar Turi, tapi sang Walikota tidak hadir. Apa itu artinya Cak? Presiden tidak punya kuasa atas Walikota? Ataukan ada aturan Otonomi Daerah yang memberi peluang kepada pejabat daerah untuk menangani sesuatu secara mutlak dan tak bisa dicampuri,bahkan oleh Presiden?"

"Cak, perwakilan pedagang sudah dua kali berusaha untuk bertemu Wali Kota Bambang DH tetapi tidak pernah diterima. Ada yang menganalisis bahwa SBY tidak mampu melakukan apa-apa atas Pasar Turi karena kunci-kunci di strata bawahnya di Depdagri sampai Pemkot Surabaya semua dari parpol saingan parpol Presiden. Sehingga semacam ada aroma konspirasi politik sangat menyengat sekali untuk menjatuhkan wibawa dan kekuasaan pemerintahan SBY.Apa itu masuk akal atau tak masuk akal,Cak?" *****

Yang paling bahaya dari SMSSMS yang saya terima semacam itu adalah karena membuat saya bergairah makan. Kenapa bahaya? Kata anak saya, ada seribu alasan kenapa orang minum air putih dan di antara 1.000 alasan itu di bawah seratus yang relevan terhadap kesehatan. Kalau kita berkunjung ke kantor bupati dan disuguhi air putih, maka kita minum air putih.

Air putih itu sehat, namun pada momentum itu kita teguk air putih tidak dalam skala pertimbangan dan desain kesehatan. Kalau gara-gara SMS-SMS banjir tiap saat, saya lantas merasa lapar lagi dan lapar lagi, maka saya ketemu makanan karena kompensasi psikologis, bukan tirakat kesehatan, dan itu bahaya bagi badan saya jangka panjang.

Kalau SMSSMS harian sekadar minta nama bayi lahir tiga sampai empat kali seminggu, suami punya masalah serius dengan istri atau sebaliknya, keluhan tentang lapangan kerja, minta modal, problemproblem rumah tangga, stres, gelisah, bingung menentukan pilihan, atau apa pun masalah manusia sehari-hari, saya masih belum terangsang untuk makan.

Tetapi kalau masalah yang di- SMS-kan begitu gede-gede: masalah Lumpur Sidoardjo yang sekamnya makin membara dan tak sampai setengah tahun lagi akan bisa ada yang terbakar kalau pemerintah, Lapindo, dan korban lumpur tidak menemukan pemandu yang tepat untuk mengatasi benturan mereka..

Kalau yang di-SMS-kan adalah potensi bentrok ribuan tani sawit di Bangka, tanah ratusan hektare penduduk yang dipakai negara dan sampai 23 tahun belum dibayar, dan kalau semua itu coba saya tolong dengan menjumpai betapa pejabat dan birokrasi negara kita hampir sama sekali tidak memiliki logika tanggung jawab, dialektika moral, kepatuhan konstitusi,maka sungguh-sungguh saya khawatir akan makan berlebihan dan besok paginya, tatkala bangun, akan muncul pikiran tertentu di kepala saya.

Pikiran-pikiran yang selama bertahun-tahun saya pendam dalam kolam kearifan,saya simpan di laci kesabaran, saya sembunyikan di balik kerudung cinta, namun akhirnya tak mampu lagi saya meneruskannya. (*)

EMHA AINUN NADJIB

Monday, December 10, 2007

Bangbang Geni

Surya, Sabtu, 08 Desember 2007

Jaringan Bangbang Wetan yang di Jakarta, yakni Komunitas Kenduri Cinta, beberapa hari yll saya mintai tolong mensupport kegiatan Urban Poor Concortium antara 5 sd 10 Desember ini.

Mereka ingin Presiden hadir berdialog dengan kaum miskin urban Jakarta yang mereka kumpulkan. Tetapi Wardah Hafidh, pimpinan UPC, baru menghubungi kami awal Desember. Bagaimana mungkin Presiden "didadak". Tetapi tetap saya upayakan dan teman-teman KC bergerak dari level dan wilayah mereka.
Bagi saya inisiatif itu sangat menarik. UPC tergolong LSM besar dan sudah lebih 10 tahun menemani masyarakat miskin perkotaan. Saya tidak akan menilai apa-apa tentang LSM, tetapi Wardah dan UPC yang selama ini dikenal frontal dan radikal secara politik menghadapi pemerintah, terutama Pemerintah DKI: menarik untuk ditengok bahwa mereka membuka dialog dengan Presiden.
UPC percaya kepada dialog, kepada komunikasi, perundingan, perdebatan - tak hanya berjuang dengan mengandalkan kebencian, menuding-nuding, "ngarani" dan "ngrasani".
Wardah Hafidh, kakak kandung Salman Hafidh yang dulu dihukum mati oleh rezim Suharto karena kasus penyerbuan Polsek di Bandung, selama ini memang tidak dikenal "hobi" omong, bikin statemen di koran, pidato gagah, orasi kejam menusuk-nusuk mereka yang dibenci.
Wardah bersuara sangat lirih dan lembut. Tak suka tampil. Tak merasa dirinya tokoh atau pejuang. Wardah dengan setting sejarah Masyumi meskipun ia bukan kader Masyumi: percaya bahwa yang dicari rakyat adalah solusi. Yang dibutuhkan masyarakat yang bermasalah adalah jalan keluar. Wardah bukan pedagang masalah, yang punya kepentingan untuk mencari masalah, menghimpun masalah, memelihara masalah, mempertahankan masalah, karena penghidupannya bersumber dari masalah rakyat.
Wardah sangat mencintai rakyat kecil, karena memang demikian habitat keluarganya sejak dulu. Bersekolah di Mu'allimat Muhammadiyah, Sarjana Bahasa Inggris IKIP Malang, meneruskan di Ballstate University, Muncy City, Indianapolis, Amerika Serikat. Bertamu ke Allah di rumah-Nya diam-diam, dan pulang ke tanah air tanpa memasangnya sebagai hiasan penampilan sosialnya. Wardah menikmati diri dan kehidupannya yang sejati menjelang usia senjanya.
Tetapi tidak mungkin Presiden kita "paksa" mengubah skedulnya yang padat dalam waktu yang mendadak. Tetapi bisa kita upayakan agar Presiden menginstruksikan kepada Gubernur DKI Jaya Fauzi Bowo untuk merespon ajakan dialog. Syukur alhamdulillah melalui sejumlah sms dan proses, Gubernur baru itu pada 5 Desember hadir di Tugu Proklamasi Jakarta pada acara UPC menjelang Peringatan Hari HAM 10 Desember. Wardah mengatakan kepada saya bahwa kehadiran Gubernur itu positif, artinya tidak ada kepalsuan ideologis dan kolusi birokrasi. Berlangsung rasional, fair, dengan nuansa dialog dan perundingan.
Tidak nuansa sikap dari Pemerintah yang hitam putih bahwa "pokoknya LSM itu jelek", sebaliknya juga tidak ada irrasionalitas sikap LSM yang mati hidup menyebut "pokoknya Pemerintah itu jelek". Saya tidak menyimpulkan bahwa dengan demikian Indonesia akan keluar dari masalah-masalahnya. Saya tidak mengatakan bahwa nuansa positif ini cukup untuk menyelesaikan masalah. Tetapi bahwa memang demikianlah yang semestinya dilakukan oleh manusia, oleh intelektual, oleh aktivis, oleh pejuang, dalam posisi apapun.
Selama ini kita punya kebiasaan untuk bermusuhan, bermusuhan dan bermusuhan. Menjelek-jelekkan, menjelek-jelekkan dan menjelek-jelekkan. Tetapi sebatas mulut alias cangkem alias cocot alias tutuk alias congor. Kita tidak berkembang menjadi manusia pilih tanding berani tandang. Beraninya omong di belakang layar, melempar dari jauh, bersikap begini di depan bersikap begitu di belakang.
Setelah puji Tuhan Gubernur DKI bisa hadir pada pembukaan acara UPC, saya bilang kepada "Istana":
"Insyaallah ini terakhir saya menyampaikan kerepotan yang berasal dari permasalahan rakyat. Saya tidak mau persaudaraan kita diganggu secara overload oleh problem-problem yang jauh di luar kapasitas saya untuk menyelesaikannya. Saya berusaha tidak akan merepotkan lagi: kasus Pasarturi, tanah Ujung, petani Bangka, dan lumpur yang nanti tak lama lagi akan membara apinya - tidak akan saya tempuh dengan cara seperti kemarin. Memang saya melihat sekam sedang meningkat baranya. Akan ada Bangbang Geni.."
"Tetapi saya juga tahu birokrasi Pemerintah tidak punya tradisi tanggung jawab, tidak mengasah kepekaan terhadap permasalahan rakyatnya, tidak memiliki mekanisme riset dan kontrol untuk berdialektika dengan problem-problem rakyat.''
''Saya tahu mesin birokrasi Pemerintah sangat lamban, terdapat keangkuhan kekuasaan di sana sini, penuh kebebalan hati, tuli telinga dan buta mata, bahkan buta nurani. Saya tahu aturan dan tatanan otoritas Otonomi Daerah masih sangat serabutan, sehingga tidak jelas juga struktur kewenangan antara Walikota atau Bupati dengan Gubernur dan Menteri bahkan Presiden. Seorang Walikota bisa bersikap sangat sombong bahkan menempati maqam persis seperti maqam Firaun".
"Masalah-masalah kerakyatan dan kenegaraan Indonesia terlalu bertumpuk dan terlalu ruwet untuk bisa diladeni dengan tingkat rendah kredibilitas birokrasi yang sekarang ada. Maka sebaiknya saya berhenti merepotkan Presiden. Tidak usah saya datangi sebagaimana dulu bersama perwakilan 96% korban lumpur sehingga Presiden spontan ngantor di Sidoardjo. Ini bukan hanya karena kapasitas Presiden dan kondisi birokrasi Pemerintah sangat tidak kondusif untuk menyelesaikan berbagai masalah. Tetapi juga karena sangat kecil rasa bersyukur banyak orang atas apa-apa yang semestinya mereka syukuri. Juga karena kecil kemauan berbagai pihak untuk bersikap obyektif dan rasional dalam melihat dan menilai sesuatu.."
"Nanti malam saya akan tidur nyenyak dan belum tahu esok pagi bangun dengan pikiran apa soal Bangbang Geni yang akan membara.." *

oleh : Emha

Thursday, December 06, 2007

Mensurabayakan Surabaya

Surya, Sabtu, 24 November 2007

Calon kelas menengah Indonesia, anak-anak muda intelektual dari berbagai kampus Surabaya, angkatan muda bernacam segmen 'swasta' yang dimotori oleh Jam'iyah Maiyah, juga sejumlah stake-holders, aktivis birokrasi dan aktivisme sosial, sedang melakukan pendadaran diri melalui wadah Bangbang Wetan, untuk pada saatnya benar-benar siap menjadi "kelas perubah sejarah" Indonesia.

Tahap-tahap sangat penting sedang mereka tempuh.
Pertama memastikan mengukuhkan kepribadian dan kediriannya sebagai manusia, sebagai pengolah metoda Agama dan ilmu-ilmu mutakhir, sebagai rakyat Indonesia. Rakyat berasal dari kata ro'iyah = kepemimpinan. Rakyat bukan kawula atau abdi. Rakyat adalah pemegang rohani kepemimpinan yang dipatuhi oleh Pemerintah dalam konteks dan skala Negara.
Pemerintah adalah abdi atau kawula, yang dilantik oleh otoritas kepemimpinan rakyat, dikasih tempat bekerja memenuhi amanat rakyat, diberi upah, fasilitas dan berbagai akses untuk mempermudah pekerjaan kerakyatan.

Kalau pinjam filosofi "Gundhul Pacul": pemerintah meletakkan "bakul" kesejahteraan rakyat di
atas kepalanya. Derajat Pemerintah ada di bawah maqam ro'iyah. Tugas mereka mengolah modal kekayaan Negara untuk diantarkan kepada rakyat berupa kesejahteraan
lahir batin. Demokrasi adalah salah satu jenis kendaraan untuk mengantarkan kesejahteraan itu.

Pemerintah dilarang "gembelengan": main-main, sok kuasa, lupa hakikat demokrasi dan ro'iyah, merasa diri di atas rakyat dan lupa bahwa rakyat bisa hidup tanpa Pemerintah sementara Pemerintah tak bisa ada tanpa rakyat.
Kalau Pemerintah "gembelengan" maka "wakul ngglimpang segane dadi sak-latar". Kekayaan negara tercecer-cecer mubazir, dikuasai maling dan kaum serakah yang derajatnya sama dengan ayam yang nothol-nothol nasi berceceran.

Jangan lupa juga, seorang pejabat, dari Presiden sampai Gubernur Bupati Walikota, yang gembelengan: dalam teori ekogenetik -- akan menyusahkan anak cucunya, yang menanggung "walat" adalah seluruh bagian dari ekosistem dan kekeluargaannya.

Lihatlah apa yang kurang pada putra putri Pak Harto: harta benda, kekayaan apa saja, kecantikan kebagusan -- tapi apa yang mereka alami dari hari ke hari.
Orang biasa menyebut hal semacam itu dengan kata 'kuwalat', atau & 'hukum karma'.
Secara ilmiah itu bisa dianalisis, meskipun tidak tepat betul, sebagai fenomena ekogenetik, dengan variable sebut saja eko-sistemik pada suatu skala, atau eko-sosiologis. Rute waktunya bisa harian, mingguan, bulanan, tahunan, dasawarsa, abad, millennium dst. Kuwalat itu pasti
terjadi, kalau dalam idiomatik Islam: karena ada sunnatullah yang namanya tawazzun: penyeimbangan yang konsisten dan terus-menerus.

Kenapa Surabaya yang budayanya egaliter, cukup jauh dari feodalisme Jawa, demokratis, bahkan punya gen sebagai pelahir manusia-manusia Kota Pahlawan: sekarang misalnya -- Persebaya-nya terpuruk dan cara penanganan pasca dibakarnya Pasar Turi justru mencerminkan karakter yang sama sekali bertentangan dengan semangat demokrasi, watak
egaliter, budaya breh, opo anane dan sangat memalukan jika dilihat dari identitasnya
sebagai Kota Pahlawan?

Kata wong cilik: hidup ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Itu bukan sekedar suratan nasib di mana manusia hanya menjadi obyek.
Seringkali justru terjadi manusia menginisiatifi penindasan, penzaliman atau pemiskinan. Orang yang secara obyektif menurut pandangan nasib bias berada di atas, malah terpuruk di bawah karena kekuasaan politik dan birokrasi atau berbagai jenis kekuasaan lain dari manusia atas
manusia.

Suatu kelompok masyarakat merasa sedang unggul, sedang memegang jabatan dan kekuasaan, kemudian mereka sangat mantap dan meyakini keunggulannya atas kelompok
lain dalam sebuah masyarakat dan Negara.

Nanti pasti tiba saatnya tawazzun Allah akan tiba dan para penguasa zalim akan mengalami, dengan semua kerabatnya yang makan butir nasi dan tetes air dari hasil penindasan: akan merasakan semacam balasan yang mungkin lebih parah tingkat kesengsaraannya dibanding yang dulu mereka tindas.
Generasi Emas kesebelasan Inggris, demikian Adam Crozier pimpinan FA menjuluki
kesebelasan serba bintang dari negeri asal sepakbola.

Kalah 3-2 dari Kroasia meruntuhkan seluruh harga diri rakyat Ratu Elisabeth. Air mata menghujani dan membanjiri negeri yang sudah dikepung lautan itu. Lord Mawhinney, Ketua Liga Sepakbola Inggris dengan sangat pilu mengakui bahwa yang emas itu ternyata loyang.
Para ahli wirid meminjam kata-kata Allah 'min haitsu la yahtasib' mereka akan menjumpai
kenyataan jauh di luar yang mereka perhitungkan.
Berbagai rekayasa tidak jujur, hati yang tidak adil dan pikiran yang tidak obyektif yang menimpa rakyat Indonesia di tengah himpitan dan timbunan masalah-masalah: lambat atau cepat akan mengalami produk dari 'min haitsu la yahtasib'.

Allah lebih lanjut meladeni tantangan: 'Innahum yakiduna kaida wa akidu kaida'. Mereka
melakukan tipu daya, dari lokal sampai internasional, dan mereka akan 'kejagul' karena Allah
adalah Maha Penipu Daya. Tinggal rakyat yang ditipu daya itu mempercepat dengan tangis
mereka kepada Allah atau membiarkan irama Allah berlangsung apa adanya.

Maka kaum muda Bangbang Wetan di Balai Pemuda Surabaya, yang bulan ini berlangsung lusa 27 November 2007: menghimpun hati yang adil, pikiran yang obyektif, mental yang tenteram, pendataan yang lengkap, analisis setepat mungkin, menabung infrastruktur mental kelas menengah perubah nasib bangsa karena Indonesia hari ini sungguh tak punya Kelas Menengah Pemikir yang sungguh-sungguh mateg aji merancang perubahan: yang di atas hidup
sangat enak dan pasti tidak mau berubah, yang di bawah kelelahan mikir sebutir nasi sehingga tidak mungkin dituntut memikirkan perubahan.

Padahal tidak ada toleransi lagi bahwa Indonesia wajib berubah 'sak oyot-oyote'.
Makanya sekarang belajar rendah hatilah kita semua: kita sisihkan dulu kata-kata gagah untuk menyebut diri sendiri: emas, mutiara, super, mega, raja, ratu, pejuang 'Surabayakanlah Surabaya!' *

Emha Ainun Nadjib (PmBNetDok)

Wednesday, December 05, 2007

Indonesia, Dauri, Buto Kempung

Betapa tak terhitung jumlah bahasa di negeri kita, sehingga betapa rawan pula itu semua dari disinformasi dan diskomunikasi. Bahasa Indonesia saja ada tiga macam: bahasa Indonesia yang baik, yang benar dan yang enak.
Berapa puluh ribu pula bahasa etnik, dengan ratusan ribu macam dialeknya. Bahasa Indonesia yang seolah-olah merupakan bahasa kesatuan itu terbagi lagi menjadi bahasa politik, bahasa birokrasi, bahasa hukum, bahasa dagang, bahasa ilmuwan, bahasa seniman, bahasa artis, bahasa pasar, bahasa wadam, bahasa preman, juga bahasa prokem yang juga punya unikum sendiri-sendiri di setiap daerah - ditambah lagi berkembang secara dinamis dari generasi ke generasi.
Ambil satu contoh: bahasa preman. Itupun harus dikhususkan segmentasinya, sebab kode-kode bahasa preman di Medan lain dengan Makassar atau daerah lainnya. Preman, Gali, Jeger.Kita ambil saja jaringan yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah - yang wilayah operasinya sampai meluas, bahkan di Jakarta memiliki 'propinsi kekuasaan'nya sendiri - meskipun tetap harus diingat bahwa ada berbagai variasi-variasi bahasa di antara mereka dalam jaringan yang sama.
Di wilayah jaringan itu kalau dompet atau jam tangan Anda mau dicopet, atau koper Anda di kereta atau tas Anda di bis disentuh oleh tangan jahil - Anda bisa bisikkan kepada yang bersangkutan: "Ssssst!.Dauri, Dauri.". Sahabat baru Anda itu akan tersenyum kecut atau salah tingkah atau bahkan ketakutan kepada Anda.
Dauri bisa berarti teman sendiri, atau sekaligus menginformasikan tentang seorang preman yang sudah mapan, senior, sehingga tidak tampak, berperilaku priyayi namun sudah makan asam garam dunia perjegeran. Dengan Anda bisikkan kode elite itu, berarti ia mayak : ketahuan. Maka ia diam-diam berterima kasih kepada Anda. Sebab kalau ia mayak oleh Mbakyu - alias polisi - maka ia kagep. Ditangkap.
Sahabat baru Anda yang tak jadi menjahati Anda itu mungkin seorang Gondes, preman pendatang baru yang masih elementer tingkat pembelajarannya. Atau dia seorang Bleksor, yang sudah cukup punya kemampuan dan sedang aktif-aktifnya di jalanan. Tapi kalau yang menjahati Anda adalah jenis Buto Kempung, penjahat picisan yang dungu ; atau apalagi sekaligus ia juga Buto Mubal - Anda mungkin harus punya kejantanan untuk bertindak kongkret secara fisik. Buto Mubal itu ideologinya ngeyel, salah benar membandel dan melawan. Sudah jelas Anda yang dijahati, malah dia komsemo, mempertengkari Anda seolah-olah Anda pencurinya. Di Jawa Timur, seorang pemuda motornya dicuri, malah diteriaki maling, ia dikejar-kejar massa dan dibakar hidup-hidup.
Juga Anda pasti kalah kalau kepergok Buto Mati. Ini pakar pencuri. Takaran yang diincarnya mahal, namun ia punya kemampuan untuk sama sekali tidak berjejak dan tidak ketahuan. Anda pasti tahu bahwa era reformasi sekarang ini masih punya PR yang menyangkut ratusan, mungkin ribuan Buto Mati - yang di jaman Orba dulu menjadi tonggak kecurangan kekuasaan sambil ngempleng - korupsi - habis-habisan, tapi tetap aman dan leha-leha sampai hari ini, bahkan masih diwawancarai oleh media massa.
Para koruptor yang selamat, yang bahkan tidak kehilangan eksistensi dan nama baik - dijuluki oleh sebagian masyarakat sebagai Kiai Bejo. Ada rumus: orang pandai kalah oleh orang kuat, orang kuat kalah oleh orang kuasa, orang kuasa kalah oleh orang kaya, orang kaya kalah oleh orang gila, orang gila kalah oleh orang bejo - beruntung.
Berbagai kasus korupsi dikamuflase dengan metode Ges: tukar barang, tukar otoritas, administrasi ganda, retorika birokrasi - tanpa ketahuan. Dan ternyata orde sesudah reformaso tidak kalah orba disbanding orba. Pencurian kayu hutan di sebuah kabupaten Jawa Tengah meningkat 300% sesudah Orba.
Orba adalah periode monopoli pencurian. Berikutnya adalah desentralisasi korupsi. Di jaman Orba iblisnya jelas, sesudahnya iblis setan berpakaian malaikat. Perusahaan-perusahaan besar di jaman orba kalau harus kasih upeti, nomer rekeningnya jelas untuk dikirim tiap bulan. Di jaman berikutnya, pembawa-pembawa rekening datang ke kantor perusahaan tak terbatas jumlahnya, sesudah menagih selalu ada lagi yang menagih: yang minggu lalu utusan pimpinan wilayah, hari berikutnya pimpinan daerah, esok paginya pimpinan cabang, kemudian ranting, kemudian satgasnya, kemudian keponakannya, kemudian temannya anaknya menantu tetangganya Pak Anu. Terkadang saya memohon : Ya Tuhan, hendaklah negeriku ini dipimpin oleh Firaun atau Hitler, supaya jelas peperangannya.
Reog-reog, perampok-perampok besar, tetap merajalela di segala kelas. Sudah sangat pandai me-lier: alias money laundring. Sangat banyak yang siap menjadi LB: tukang tadah pengatas-namaan rekening. Modus kejahatan resmi sudah dilakukan tanpa temi, tanpa waja, tanpa ja'tema: tanpa ragu atau takut sedikitpun. Hasil rampokan sistemiknya kabir, bahkan kabir get. Sangat sangat besar..
Teman-teman jual barang klitikan atau loakan saja sangat sepi transaksi, tapi mobil-mobil mewah meluncur kesana kemari, rumah-rumah istana kosong di sana sini, dihuni oleh keluarga yang dibayar oleh si empunya rumah. Uang yang beredar di lapis menengah ke bawah entah kenapa menjadi sangat sedikit. Anak-anak kita nekad melakukan tem-teman atau njambret, memelototi kentus atau dompet, meng-garbol alias mengambil barang dari tas, atau kalau sepi 'transaksi' juga ya ngecut - ambil apa saja sekenanya. Bisa botol alias handphone, atau mal-malan, merebut pakaian orang. Apa boleh buat kalau memang harus di-sartek, ditahan, dan masuk sarbekan, LP..
Masyarakat eksklusif pemakai bahasa ini bukanlah orang-orang besar macam AlCapone, Corleon, atau Raja Judi yang menguasai seluruh kota, membungkam para pejabat dengan tumpukan leseh, yang bisa menginisiatifi ruislag gedung ini atau tanah itu dan diberi pembenaran hukum oleh petugas hokum. Bukan. Para preman yang saya bicarakan ini adalah para 'penanggung dosa' dari perilaku kejahatan 'atasan' mereka: perampok-perampok struktural. Mereka harus rutin ng-leseh ke atas. Dan kalau jumlahnya tidak memenuhi kehendak 'atasan'nya - mereka diborgol dan diumumkan kejahatannya. Di Koran ditulis: ditembak kakinya karena melarikan diri.
Komunitas mereka ini memiliki tipologi kepribadiannya sendiri, dengan jenis kesetiaan dan model kebaikan hatinya sendiri. Kalau kita pandang sepenggal, mereka adalah penjahat. Kalau kita pakai kamera long-shoot, mereka memiliki posisi ketertindasannya sendiri. Mereka juga memiliki modus amarah tersendiri, yang jika diorganisir bisa menjadi ledakan dan siksaan social.*****

Emha Ainun Nadjib (PmBNetDok)

Tuesday, December 04, 2007

ANTARA TIGA KOTA

di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu

kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga

surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya

kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Emha Ainun Najib (PmbNetDok)

Monday, December 03, 2007

Indonesia Tak Ada Masalah

Koran SINDO, Jum'at, 30/11/2007


KEMARIN saya berbicara di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dalam sesi bersama Dewi Fortuna Anwar dan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad.

Tema yang diangkat adalah pengefektifan otonomi daerah untuk meningkatkan ketahanan nasional. Sudah pasti ini bukan bidang saya. Undangan ini termasuk "tersesat". Dewi Fortuna dengan sangat artikulatif dan ilmiah mengemukakan pemikiran-pemikirannya, dialektis makro dan mikro, sangat penuh disiplin karena dia berasal dari habitat BJ Habibie. Fadel bercerita tentang pokok pengalamannya 6 tahun menjadi gubernur dalam hal yang terkait dengan tema.

Paparannya sangat nyata, sejumlah rekomendasi dia kemukakan tidak berasal dari pemikiran, tetapi dari pengalaman nyata. Sejak awal mendapat undangan saya sudah mengalami kebingungan.Sudah beberapa tahun ini saya berkeliling ke daerah-daerah dan umumnya diundang oleh pemda provinsi, kotamadya atau kabupaten, sendirian atau bersama Kiai Kanjeng, sehingga nuansa dan problematika otonomi daerah mungkin serbasedikit bersentuhan dengan perjalanan saya. Ramadan lalu saya berjumpa dengan ribuan rakyat Gorontalo pencinta "Habib" Fadel Muhammad, sebagian dari 83% pemilih Fadel pada pemilihan gubernur kali kedua lalu.

Dua malam yang lalu bersama Kiai Kanjeng kami bercengkerama dengan 18.000-an orang di Alun-Alun Kraksan Probolinggo, di tengah situasi menjelang Pilkada Kabupaten. Sejauh kami berkeliling daerah, hampir tak pernah kami tidak mewawancarai para kepala daerah, secara audiovisual, tentang apa saja yang mereka lakukan bagi pembangunan daerahnya dan penyejahteraan rakyatnya.Dokumentasi itu kami simpan untuk pembelajaran sendiri. Sesekali kami paparkan kepada Jamaah Maiyah di Kenduri Cinta,Padangbulan, Bangbang Wetan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat dan Obor Ilahi. Andai kami punya televisi atau koran, tentu kami akan memuatnya.

Apalagi wawancaranya sangat lengkap,metode penggalian faktanya komprehensif, bahkan didahului dengan semacam prariset atau identifikasi masalah, sehingga setiap pertanyaan yang kami ajukan langsung analitis dan penetratif terhadap hal-hal aktual yang sedang dikerjakan oleh para kepala daerah. Ada sejumlah hasil pemotretan dari wawancara itu tentang berbagai jenis watak kepala daerah, metode pembangunannya, jenis pengelolaannya terhadap kekuasaan, psikologi, budayanya,dan macam-macam lagi Ditambah sisi-sisi kenyataan lain dari setiap daerah, umpamanya yang berkaitan dengan tugas kepolisian, militer, budaya lokalnya, pemetaan perekonomiannya, dan seterusnya. Akan tetapi, semua itu tidak membuat saya merasa cukup untuk melakukan presentasi dalam diskusi Lemhannas itu.

Aslinya,terlalu banyak masalah di negeri ini. Jenis komplikasi masalah-masalahnya juga tak terkirakan dan gaib jika dilihat dari perspektif ilmu sosial linier. Ketika masalahmasalah yang tak terhingga itu berparade di depan mata secara eskalatif dan akumulatif, bahkan mengguyur otak bagaikan hujan multisampah menenggelamkan kepala kita - sesungguhnya sangat sukar ditemukan jawaban-jawaban ilmiah, jawaban sistem, jawaban struktur, jawaban moral, jawaban mistik, atau jawaban apa pun.

Diskusi di Lemhanas itu menyimpulkan bahwa otonomi daerah yang biasa disingkat otda itu "point of no return", kayak pesawat sudah tancap untuk take off, kalau direm akan menerjang kampung penduduk di depan atau terjungkal oleh dirinya sendiri.Maka kalau memang harus ada jawaban, yang paling mungkin adalah jawaban psikologis. Maka di awal presentasi saya mengatakan: "Kalau saya memandang wajah Anda semua, maka saya menyimpulkan bahwa Indonesia ini tak punya masalah.

Jadi saya berdiri di sini tidak menyiapkan pemikiran apa-apa, apalagi yang sifatnya pencerahan. Saya berdiri di sini hanya membawa kegembiraan.Yakni kegembiraan bahwa Indonesia tak ada masalah." Sebelum itu, di tengah kebingungan, saya menyiapkan untuk forum Lemhannas tersebut beberapa tumpuk berkas, dokumen dan surat menyurat. Saya pilih misalnya berkas dibakarnya Pasar Turi Surabaya. Pasukan Maiyah di lapangan melaporkan: Pasar Turi terbakar sebanyak 4 kali.Pertama tahun 1969, kedua 1978, ketiga 26 Juli 2007, dan keempat 9 September 2007 (ke-3 dan ke-4, oleh Kapolda Jatim dinyatakan dibakar).

Kerugian materi: 1. Dari total 2.350 stan yang terbakar,kerugian barang dagangan diperkirakan sekitar Rp1,7 triliun. 2. Dari total stan yang tidak terbakar, di lokasi tahap II tidak dapat berjualan kembali hingga saat ini. 3. Dalam kondisi normal, omzet perputaran transaksi perdagangan di Pasar Turi mencapai sekitar Rp30 miliar per hari.Dalam kondisi pemulihan yang sangat lamban, seperti saat ini dan telah berlangsung selama 3 bulan, dapat dibayangkan berapa rupiah yang hilang. Pasar Turi ini memuat tema kapitalisme liberal, feodalisme kerajaan yang berbaju republik, otoritarianisme kepala daerah yang berkostum demokrasi, pernikahan liberal antara investor dengan kekuasaan.

Para pedagang yang kehilangan pasarnya itu,sebagaimana 47.000 korban lumpur,datang ke saya memberi mandat legal formal untuk mengupayakan penyelesaian masalah. Saat-saat ini sejumlah hal sedang saya coba penetrasikan sampai ke tingkat Mendagri. Akan tetapi saya merasa beruntung karena saya membatalkan untuk membawa data-data tentang itu, ketika kemudian Fadel Muhammad menyatakan,"Selama 6 tahun saya menjadi gubernur, belum pernah surat saya kepada Mendagri mendapatkan balasan." Apalagi surat dari pedagang Pasar Turi.Jadi,alhamdulillah saya tidak jadi membawa berkas-berkas itu.

Di luar lumpur dan Pasar Turi, sebenarnya saya siapkan juga sejumlah berkas lain. Misalnya tentang 325 hektare tanah penduduk di pojok Surabaya yang 23 tahun dipakai oleh Angkatan Laut dan belum dibayar sampai hari ini, meskipun mereka sudah menang di pengadilan dan sudah memegang surat janji KSAL untuk membayar. Ada juga berkas contoh Surat Transaksi antara kandidat gubernur, calon wali kota, atau calon bupati dengan sponsor.Atau surat pernyataan kesetiaan kepada "operator" politik yang bekerja di pusat jaringan,yakni Jakarta.

Tetapi sekali lagi, saya bersyukur saya membatalkan itu semua dan diberi anugerah Tuhan berupa pernyataan bahwa Indonesia tidak punya masalah. Masalah itu adalah atau menjadi masalah jika terdapat pada orang atau pihak yang bermasalah dengan adanya masalah. Sedangkan rakyat Indonesia sudah sangat dan terlalu sering ditimpa masalah, sehingga sangat terbiasa dengan masalah, dan bahkan mampu hidup seolah-olah tak bermasalah di tengah sangat banyak masalah. Lebih dari itu, sejumlah segmen rakyat sudah memiliki kesanggupan untuk menikmati masalah. (*)

EMHA AINUN NADJIB

Thursday, November 29, 2007

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar
Bacaan al-fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya
Tegak tubuh alif-mu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis
Sujud adalah satu-satunya hakikat hidup
Karena pejalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali
Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan diperas jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya
Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang taka ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapa pun juga
Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan
(Emha Ainun Nadjib )

Sang Maha Penganugerah

Apa alasanku untuk durhaka kepada-Mu, Allahku
Di malam dan siang telingaku mendengar desir lembut suara malaikat-Mu
yang mendendangkan nyanyian-Mu yang melezatkan jiwaku
Di siang dan malam mripatku menyaksikan rahmat-Mu
bertaburan dari langit beribu penjuru.
Jika Engkau bukan Sang Maha Tanpa Pamrih
pastilah bangkrut aku
Jika atas segala anugerah-Mu harus kupersembahkan balasan,
maka tiadalah yang akan mampu aku persiapkan.
Segala yang tergenggam di tanganku adalah milik-Mu,
bahkan tak juga kumiliki diriku sendiri,
karena Engkaulah Maha Empunya semuanya ini.
Maka jika kupasrahkan seluruh jiwa ragaku
bukanlah aku memberikan sesuatu kepada-Mu,
melainkan sekedar menyampaikan hak-Mu.
Dan jika aku memberikan sesuatu kepada keluargaku,
kepada para tetangga dan sekalian orang di dalam jangkauanku,
tak lain itu hanyalah menyalurkan milik-Mu,
agar sampai pada akhirnya ke haribaan-Mu.
Apa alasanku untuk durhaka kepada-Mu, Allahku
Engkau Maha Memberi, tanpa meminta:
aku lah yang membutuhkan penyerahan segala sesuatu ke hadapan-Mu.
(Emha Ainun Nadjib)

Wednesday, November 28, 2007

CAHAYA AURAT

Ribuan jilbab berwajah cinta
Membungkus rambut, tubuh sampai ujung kakinya
karena hakekat cahaya Allah
Ialah terbungkus di selubung rahasia
Siapa bisa menemukan cahaya?
Ialah suami, bukan asal manusia
JIka aurat dipamerkan di koran dan di jalanan
Allah mengambil kembali cahayaNya
Tinggal paha mulus dan leher jenjang
Tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada
Para lelaki yang memelototkan mata
Hanya menemukan benda
JIka wanita bangga sebagai benda
Turun ke tingkat batu derajat kemakhlukannya
Jika lelaki terbius oleh keayuan dunia
Luntur manusianya, tinggal syahwatnya

(Emha Ainun Najib)

Tuesday, November 27, 2007

Kita Para ”Indon”

Koran SINDO, Jum'at, 23/11/2007
TIGA pekan lagi, 14 Desember, saya akan sediakan panggung-panggung untuk beberapa penyair PENA Malaysia di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Besoknya saya ajak ke acara Komisi Yudisial, ada Rendra,Taufiq Ismail,M Sobary,Kiai Kanjeng, dll di sana.
Besoknya lagi saya coba koordinasikan dengan Taman Budaya Yogya. Besoknya sesudah itu di padangbulanan Yogya ”Mocopat Syafaat”Yogya. Kemudian sudah saya pesan kerja sama dengan Fakultas Sastra Unair dan Bengkel Muda Surabaya. Justru karena Indonesia dan Malaysia sedang tak enak hati. Orang Indonesia uring-uringan soal ”Rasa Sayange”, ”Reog”, ”Batik”, dll.
Malaysia dianggap ‘ngelunjak’, ang kuh, merendahkan, bahkan semua warga kita yang di Malaysia kebal dengan sebutan ”Indon”. Malaysia sendiri juga punya perasaan yang sama. Heran kenapa Indonesia marahmarah. Pejabat-pejabat di sana mengeluh bahwa pers Indonesia terlalu membesarbesarkan masalah.
Seorang anak muda, dalam acara ”Kongres Budaya Serumpun” mengatakan kepada saya: ”Bangsa Indonesia bersikap seperti itu karena pendidikannya lebih rendah dari bangsa Malaysia”. Sebenarnya agak malas, tetapi saya langsung jawab ketika itu: ”Please don’t ever ever ever say such a word again...”.
Apalagi kalau pas di Indonesia, kalimat itu jangan pernah diucapkan. Saya tidak tergerak untuk membantahnya, meskipun budayawan senior Baharudin Zainal kemudian setengah mati mengatakan: ”Saya dibesarkan secara intelektual di Indonesia.Harsya Bachtiar, Umar Kayam, Goenawan Muhamad,Taufiq Abdullah,dll bukan hanya sahabat-sahabat saya, tapi juga inspirator dan guru-guru saya.
Dalam konteks pencapaian intelektual,kebudayaan dan karya seni, Indonesia sama sekali bukan tandingan kita. Secara keseluruhan, bahkan Indonesia adalah gurunya Malaysia....” Saya sendiri tidak akan membela diri seperti itu.Andaikan dikejar kenapa sa- angya bilang ”Do not ever say that again”, saya akan jawab: ke mana pun pergi, saya selalu belajar dan berguru.Apalagi ke Malaysia.
Kalau guru saya merendahkan saya, maka saya batalkan pembelajaran saya, sebab ekspresi superioritas orang lain sudah lebih dari cukup bagi saya untuk merogoh, menyerap, mencuri dan menelanjanginya sampai ia kopong kosong hampa. Ada sangat banyak dan cukup panjang soal Indonesia-Malaysia ini kalau dituliskan.Banyak segi,dimensi, dan nuansa.
Berulang kali saya ke Malaysia, beberapa kali dengan Kiai Kanjeng, tanpa pernah mengalami sikap angkuh atau meremehkan dari mereka. Ada sejumlah fakta dan data bisa dipakai kalau mau pertandingan keunggulan, bangsa Indonesia sesungguhnya tak terlawan oleh siapa pun di muka bumi ini, kecuali (kita juga memiliki) sejumlah kecenderungan seperti ‘selengean’, ‘cengengesan’, ‘iseng’, tidak percaya satu sama lain, terlalu permisif, dan suka menggampangkan sesuatu.
Kita bisa diskusi tentang Indonesia- Malaysia sekian bab. Misalnya kontinuasi perang dingin dan dendam Melaka-Majapahit. Bab lain tentang Hang Tuah dan Hang Jebat.Bab lain tentang Kementerian Pariwisata dan Eny Beatric.Bab lain tentang TKI-TKW sebagai representasi bangsa Indonesia, sehingga generasi terbaru Malaysia membayangkan Indonesia itu hutan rimba, suku terasing, kampung-kampung, dusun-dusun, uneducated dan uncivilized nation.
Bab lain tentang paradoks antara fanatisme Melayu, tetapi orientasi kebaratan yang makin meninggi. Bab lain tentang perlunya bangsa Malaysia dikasih data tentang jumlah orang Jawa di tengah bangsa-bangsa dan sukusuku di wilayah Nusantara. Cukup statistik saja dulu, tak perlu hal Ronggowarsito, Gajahmada, filsafat adiluhung, Tari Bedoyo Ketawang, apalagi sampai Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer atau BJ Habibie. Juga tak perlu hitung dulu berapa jumlah mal di Kelapa Gading saja, tak perlu seluruh Jakarta, dibanding Kuala Lumpur.
Bab lain tentang hal-hal internal di kandungan kehidupan bangsa Malaysia.Tentang posisi persaingan Melayu melawan etnik China dan India.Tentang konstelasi nilai pencapaian akademis mahasiswamahasiswa Indonesia di Malaysia. Tentang bandingan omzet Digi, Maxis, dan Celcom yang mencerminkan prestasi manajemen pada perusahaan-perusahaan ‘etnik’ di belakangnya.
Tentang dangdut dan campur sari,serta sejarah etos ekonomi di Chowkit. Tentang tukang batu, tukang kayu Jawa, bagaimana gerangan prestasi ekonomi mereka. Tentang peran masa depan TKW bagi anak-anak Malaysia. Tentang bangsa yang menghindari ”3D”: dirty, difficult, dangerous....
Tetapi semuanya itu sebenarnya tak perlu diungkap.Kalau SBY punya kalimat yang memenuhi kepiawaian diplomatik sekaligus keindahan budaya dan kearifan rohani, segera semua bisa dieliminasi. Kecuali memilih seperti Bung Karno: ”Ganyang Malaysia!”, meskipun terpaksa kita tambahi ”Tapi selamatkan Siti Nurhaliza”. Atau mungkin bisa duta SBY dan perutusan Pak Lah duduk bersama, kemudian bikin pernyataan bersama.
Bangsa Malaysia adalah bangsa yang sebaiknya dipangku disayang oleh bangsa Indonesia. Soal ribut-ribut hak cipta itu silakan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: ”O, itu orang Jawa Sunda Bugis Ambon sendiri yang berbaju Malaysia yang menggoda Indonesia melalui Rasa Sayange dll supaya bangsa Indonesia bangun dari tidurnya, marah, dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya.
Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan rahasia rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia....” Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali di lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, ngeloyor pergi meninggalkan musuh yang sebenarnya dengan satu gerakan kecil bisa ditumpasnya.
Ketika ditanya, Ali menjawab: ”Karena diludahi, aku meninggalkannya. Karena aku takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak karena Allah”. Kita tak perlu pergi seperti Ali, sebab kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia. (*)
EMHA AINUN NADJIB